Rabu, 19 September 2012

ALLAH MENCIPTAKAN KA'BAH

-->
KA'BAH SEBAGAI SIMBOL IBADAH UNTUK MENGINGAT ALLAH



Allah menciptakan ka’bah sebagai simbol ibadah untuk mengingat-Nya, namun ka’bah sesungguhnya bukanlah Tuhan yang bisa disembah, justru Sang Pemilik ka’bah itulah yang harus disembah, kita tidak memuliakan bangunan yang terbuat dari batu tersebut, oleh karenanya saat thawaf ka’bah diposisikan disebelah kiri kita dan bukan disebelah kananan.
Setiap orang yang berhaji maupun umrah mengelilingi ka’bah sebayak 7 putaran, mengitarinya 7 putaran adalah lambang dari perjalanan hidup manusia selama di dunia dan ka’bah sebagai simbol Tuhan selalu berada di dekat mereka, sebuah i’tibar  dalam hidup ini manusia tidak bisa  menghindar dari pengetahuan Allah SWT, sebagaimana saat thawaf kita tidak lepas dari melihat dan dilihat oleh ka’bah al-musyarrafah, hal ini merupakan esensi dari rangkaian ibadah yang setiap saat dilakukan oleh semua hamba-hamba Allah, Rasulullah SAW pernah menegaskan ”sembahlah Tuhanmu seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak yakinlah bahwa Dia melihatmu”!.
Saripati thawaf melahirkan paradigma baru bagi para jamaah haji bahwa dimanapun, kapanpun, Tuhan selalu melihat perbuatan setiap manusia, seyogyanyalah orang yang sudah melakukan thawaf akan terpelihara disisi Allah dari sifat-sifat yang tercela.
Ritual ibadah haji bermula dari Nabi Ibrahim as ketika hijrah bersama siti hajar dan Nabi Ismail A.S, sejarah peradaban dan kebanggaan umat islam dimulai, rangkaian peristiwa yang menimpa Nabi Ibrahim sebagai serentetan ujian dari Allah SWT, didalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji hal tersebut diulangi satu-persatu sebagai sebuah ritus dengan makna yang sama bagi umat sesudahnya.
Jika dahulu Nabi Ibrahim berdiri dan berdo’a kepada Allah ketika ia membangun ka’bah maka kini para jamaah haji dan umrah melakukan hal yang sama ditempat yang sama saat berdiri didepan multazam sejajar dengan pintu ka’bah, itu perlambang bahwa saat itu seorang hamba disuruh untuk menatap lurus kepada Tuhan lalu melakukan janji untuk berserah diri kepada-Nya, “ilahii anta maqshudii waridhaka mathluubii “ Tuhanku Engkaulah tujuan perjalananku, dan ridha-Mu menjadi harapanku”, lihat alquran surat al-Baqrah 2:12.  Jika dahulu Siti Hajar berlari-lari di antara bukit Shafa dan Marwa,  maka kini para jamaah haji dan umrah juga melakukan hal yang sama, demikian pula selanjutnya. Ritual haji sarat dengan histori spiritual yang jika kita mengetahui hikmah dan filosofinya insyaallah kita akan mampu membuat sebuah revolusi diri dalam prilaku hidup kita sehari-hari.
Sejarah tentang ka’bah tercatat dalam ayat al-qur’an surat al-Baqarah, 2 : 124-125 dan surat Ali-Imran, 3 : 96. Setelah nabi Ibrahim dan keluarganya berhasil melewati sederetan ujian yang panjang dari Tuhan Maka dibangunlah rumah Allah yang pertama kali di bumi Makkah di atas sebuah lembah pebukitan yang gersang, kosong, panas da ntandus.Lalu dibangunlah d isekitarnya rumah Siti Hajar dan mulailah orang-orang berdatangan, lembah sekitar ka’bah pun menjadi tempat persinggahan bagi para kelompok orang-orang yang bepergian, karena tempat ini disamping srategis ia memiliki air zam-zam yang memberikan kebutuhan pada para musafir waktu itu sebelum melanjutkan perjalanan.
Allah SWT telah memilih ka’bah sebagai rumah-Nya (makna lahiriah) yang kini semua umat Islam menghadapkan wajahnya kehadap Baitullah tersebut, lalu dimanakah sebenarnya rumah bathiniah Allah? kemanakan kita upayakan diri ini untuk berjalan menuju-Nya? Di dalam alkisah suatu hadis kudsi Allah yang Maha Suci berfirman“ Wahai Manusia! Telah Aku ciptakan syurga sebagai rumahmu nanti namun sebelum engkau memasukinya aku mengusir syetan dari syurga-Ku.Tempatku di alam duniamu adalah hati mu sendiri, maka sudahkah engkau bersihkan hatimu dari syetan sehingga Aku bisa masuk ke dalamnya ? tempatku tidak akan mencukup langit dan bumi, tetapi aku bisa masuk ke dalam kalbu seorang muslim yang berserah diri kepada-Ku.
Dari kutipan hadis kudsi di atas dapat disimpulkan bahwa rumah bathiniah Allah terletak pada kedalaman hati kita, sebagaimana ka’bah yang diririkan oleh kedua orang suci, dibangun di atas tanah suci dan ditegakkan sebagai symbol untuk mengingat Allah SWT  yang MahaSuci,  maka demikian pula hati kita diciptakan untuk mengingat Allah SWT yang suci, jika hati telah dipenuhi hal-hal lain selain Allah SWT maka yang akan teringat setiap saat adala hhal-hal lain pula selain Allah SWT, jika hati dimuat dengan duniawi semata maka yang akan selalu teringat adalah duniawi pula sekalipun yang si pemilik hati itu sedang berada di atas sajadah saat i ashalat, atau pun berada di sekitar ka’bah sedang mengelilingi ka’bah, namun hatinya yang penuh dengan keduniawian akan mengingat selain Allah SWT. (rul)


Disadur oleh :
Damin-Kecilamass
Pekayon- Cibubur Jakarta-Timur

Selasa, 18 September 2012

IRI HATI MENURUT ISLAM


CIRI-CIRI ORANG IRI HATI
  
iri-ciri orang Iri Hati

1. Tidak dapat melihat orang lain lebih ( maju,bahagia, atau berhasil ).
2. Cenderung senang mencari kesalahan orang lain.
3. Sulit mencukup diri dengan apa yang ada ( sulit bersyukur ).
4. Senang lihat orang lain susah / menderita / gagal.
5. Cenderung membicarakan pada orang lain kesalahan kesalahan orang yang dimaksud 
    dengan segala cara untuk meyakinkan bahwa omonganya paling benar tetapi pada kenyataan
    belum tentu benar( Pandai mengada-ada)
6.Cenderung menutup diri dari pergaulan  dengan orang lain
7. Sifatnya egois( Keras kepala )
8. Berusaha menebar kebencian pada siapapun agar orang yang diajak bicara mempercayainya
    apa yang diceriterakan
9. Tanpa disadari bahwa sifat seperti ini akan diikuti oleh sanak keluarga
10. Cenderung akan Memutus silaturahmi , Persahabatan,
  
Bahaya Iri Hati 

1. Orang iri hati mudah menyimpan dendam.
2. Orang iri hati mudah menghalalkan segala cara.
3. Orang iri hati mudah melupakan Firman Tuhan.
4. Orang iri hati mudah kecewa.

Timbulnya Iri Hati

1. Karena tidak memiliki rasa percaya diri.
2. Karena tidak menyadari Anugerah & Kasih Allah yang berbeda-beda bagi tiap-tiap 
orang.
3. Karena tidak memiliki jiwa besar untuk menghargai kelebihan orang lain.
4. Karena terpengaruh bujukan-bujukan iblis dalam hati. 

Bebas dari Iri Hati 

1. Sadari iri hati adalah dosa.
2. Belajarlah untuk berjiwa besar agar dapat menyaksikan “Berkat Lebih” dalam 
kehidupan orang lain. 
3. Sadari tugas kita untuk setia dengan tugas yang dipercayakan pada kita.
4. Ingatlah bahwa iri hati menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama.
5. Sadarilah bhw iri hati menghambat kesaksian kita.
6. Ingatlah iri hati mudah dipakai setan utk mendatangkan persoalan.
7. Mengertilah bahwa iri hati menyengsarakan kita dan mendatangkan banyak kerusakan.

Kesimpulan :
   Sifat iri hati sangat berdosa menurut ajaran Islam, karena secara tidak langsung tanpa disadari mengajarkan
   pada anak anak kita untuk berbuat dosa  atau orang lain yang mengikuti sifat dari sejak mereka 
   mengikuti   sampai akhir hayatnya

2. Dengki
Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini.
3. Hasut / Hasud / Provokasi
Hasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.
4. Fitnah
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti yang kuat.
5. Buruk Sangka
Buruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.
6. Khianat / Hianat
Hianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik. Orang yang telah berkhianat akan dibenci orang disekitarnya dan kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.
Damin Kecilamass 
Pasar Rebo Jakarta Timur
 

Jumat, 10 Agustus 2012

6 KAUM YANG DIBINASAKAN ALLAH KARENA KEDZALIMANYA


-->
1.Kaum Nabi Nuh as
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang menjawab seruan dakwahnya untuk beriman kepada Allah sangat sedikit. Kebanyakan kaumnya justru mendustakan bahkan memperolok-olok Nabi Nuh. Kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan kaum Nabi Nuh mengundang azab Allah. Allah lalu memerintahkan Nabi Nuh dan pengikutnya untuk membuat bahtera. Mereka pun tidak mengetahui untuk apa bahtera itu dibuat. Sementara kaumnya yang ingkar, mencomooh tindakan Nabi Nuh membuat bahtera yang dianggap bodoh.

Saat waktu yang ditentukan tiba, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh beserta pengikutnya dan hewan-hewan berpasang-pasangan untuk menaiki bahtera tersebut. Allah lalu mendatangkan banjir yang besar. Seluruh kaum yang ingkar saat itu mati tenggelam. Termasuk istri dan anak Nabi Nuh.

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS Al- Ankabut: 14)

Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat pun selamat setelah berlayar menggunakan bahtera yang terbuat dari kayu. Setelah berlayar cukup lama, dikisahkan bahtera Nabi Nuh berlabuh di sebuah daratan tertinggi saat itu.

"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku." (QS Al-Qamar: 11-13)

Dalam riwayat disebutkan, air bah yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh ketika itu menutupi juga hampir dua pertiga bumi. Nabi Nuh beserta dengan pengikutnya yang beriman berhasil selamat dari azab tersebut atas izin Allah SWT. Namun hingga kini, belum diketahui secara pasti dimana lokasi berlabuhnya bahtera yang membawa Nabi Nuh dan pengikutnya.

2.Kaum Nabi Hud as

Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Nabi Hud menyeru kepada kaumnya agar mengesakan Allah dan meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan. Namun segala seruan dan ajakan Nabi Hud berbuah ejekan, cemoohan dan pengingkaran dari bangsa 'Ad.

Kaum 'Ad dikenal sebagai bangsa yang cerdas dan memiliki teknologi untuk membangun gedung-gedung bertingkat. Namun kehandalan dan kehebatan mereka menjadikan mereka sombong, berlaku bengis, zalim, dan mengingkari seruan dakwah yang disampaikan Nabi Hud as.

Akibat kedustaan-kedustaan yang dilakukan bangsa 'Ad, Allah SWT menurunkan azabnya sangat pedih. Alquran menjelaskan dengan sangat jelas tantang hal ini.

“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS Al Haaqqah, 69: 6-8)

Bukti-bukti reruntuhan peradaban bangsa Ad ditemukan para peneliti Barat pada tahun 1990-an di sebuah wilayah yang dikenal 'Ubar, di wilayah Yaman. Menariknya, apa yang mereka temukan sama persis seperti yang dikisahkan dalam Alquran.

Dr Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian mengatakan karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota ‘Ubar, dan karena Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka itulah bukti terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Alquran:

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain." (QS Al Fajr, 89: 6-8)

3.Kaum Nabi Saleh as

Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Misi Nabi Saleh as sama seperti para nabi lainnya, yaitu menyeru manusia untuk bertauhid (mengesakan Allah). Namun seruan Nabi Saleh as justru mendapat tantangan dan cemoohan dari kaumnya, bangsa Tsamud. Bahkan mereka tetap mempertahankan penyembahan terhadap berhala yang diyakini sebagai penyembahan warisan nenek moyang.

Kaum Tsamud juga dikenal sebagai bangsa yang cerdas. Jika kaum 'Ad mampu membangun gedung-gedung tinggi, lain halnya dengan bangsa Tsamud. Mereka mampu mengubah tebing-tebing dan batu-batu besar menjadi istana-istana yang megah dan indah. Mereka mampu memahat bebatuan sehingga menjadi tempat tinggal. Lagi-lagi, kehebatan yang dimiliki mereka, membuat mereka ingkar dan zalim kepada Allah SWT.

Kaum ini tinggal di dataran bernama "Al Hijr" terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai oleh suku Aad yang telah binasa karena dilanda angin topan yang dikirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Hud.

Seekor unta betina yang keluar dari celah batu sebagai mukjizat Nabi Saleh as pun tidak cukup untuk meyakinkan mereka untuk beriman kepada Allah. Kaum Tsamud justru membunuh unta betina tersebut.

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.

Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh, kaumnya malah merencanakan pembunuhan sebelum azab itu turun. Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rencana pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak. Rancangan mereka ini dirahasiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapapun.

Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh di malam yang gelap-gelita dan sunyi-senyap jatuhlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang datang dari langit dan yang seketika mereka bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindungi rasul-Nya dari perbuatan jahat orang-orang yang ingkar.

Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para pengikutnya menuju Ramalah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan Hijr. Kaum Tsamud habis binasa ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Hal ini dikisahkan dalam Alquran di sejumlah ayat.

"Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul." (QS Al Hijr: 80)

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al A'raf:73)

"Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (QS Al A'raf:74)

"Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Saleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Saleh diutus untuk menyampaikannya”. (QS Al A'raf:75)

"Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. (QS Al A'raf:76)

"Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Saleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (QS Al A'raf:77)

"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (QS Al A'raf:78)

"Maka Saleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat”. (QS Al A'raf:79)

4.Kaum Nabi Luth as

Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepadamereka “ Mengapa kamu tiidak bertakwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasulkepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.“ (QS Asy-Syu'ara 160-168).

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda(kebesaran Kami) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap (dilalui manusia)." (QS Al Hijr 73-76


5.Kaum Nabi Syuaib as

Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa.

"Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka." (QS Attaubah: 70)

"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia,lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa." (QS Thaaha: 40)

"dan penduduk Madyan, dan telah mendustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu)." (QS Alhajj: 44)

Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah)

"Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim." (QS AlHijr: 78). Penduduk Aikah ini ialah kaum Syu'aib. Aikah ialah tempat yang berhutan di daerah Madyan.

"Dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul)." (QS Shaad: 13)

"Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba' semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan." (QS Qaaf: 14)

6. Firaun

Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun atas kezaliman yang diperbuatnya. Nabi Musa dan Harun menyeru agar Firaun beriman kepada Allah swt dan bersikap adil terhadap rakyatnya. Namun seruan Nabi Musa as bak angin berlalu. Bahkan Firaun dengan kesombongannya menentang seruan Nabi Musa dan mengaku sebagai tuhan.

Saat hari yang ditentukam tiba, Allah swt memerintahkan agar Nabi Musa dan umatnya keluar dari Mesir dengan menyeberangi laut Merah. Mukjizat yang Allah berikan berupa tongkat yang dapat membelah lautan menjadi jalan bagi Nabi Musa dan umatnya untuk keluar dan hijrah. Nabi Musa dan umatnya keluar dari Mesir pada malam hari untuk menghindari ancaman dari Firaun. Namun kepergian Nabi Musa dan umatnya ternyata diketahui oleh Firaun. Firaun lantas bersama ribuan bala tentaranya mengejar Nabi Musa as.

Nabi Musa dan umatnya menyeberangi lautan melalui jalan yang telah terbentuk. Tatkala Nabi Musa dan umatnya telah tiba di seberang, Firaun dan bala tentaranya baru mencapai pertengahan jalan. Seketika lautan yang terbelah itu langsung menutup kembali. Firaun dan bala tentaranya pun tenggelam di laut Merah.

Allah Maha Besar, jasad dan kereta perang Firaun terjaga dan berhasil dikeluarkan setelah ribuan tahun terkubur di kedalaman lautan. Hingga kini jasad Firaun masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir.

"Dan (ingatlah) tatkala Kami belahkan lautan untuk kamu, maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan kaum Fir'aun padahal kamu melihat sendiri." (Al Baqarah: 50)

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (Yunus: 92)

”Dan berkata Firaun kepada orang-orang di sekelilingnya; ” Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS Al Qashas: 38)


Disadur Oleh :
Damin- Kecilamass
Cibubur Jakarta-Timur