-->
KA'BAH SEBAGAI SIMBOL IBADAH UNTUK MENGINGAT ALLAH
Allah menciptakan ka’bah sebagai simbol ibadah untuk mengingat-Nya, namun
ka’bah sesungguhnya bukanlah Tuhan yang bisa disembah, justru Sang Pemilik
ka’bah itulah yang harus disembah, kita tidak memuliakan bangunan yang terbuat
dari batu tersebut, oleh karenanya saat thawaf ka’bah diposisikan disebelah
kiri kita dan bukan disebelah kananan.
Setiap orang yang berhaji maupun umrah mengelilingi ka’bah sebayak 7
putaran, mengitarinya 7 putaran adalah lambang dari perjalanan hidup manusia
selama di dunia dan ka’bah sebagai simbol Tuhan selalu berada di dekat mereka,
sebuah i’tibar dalam hidup ini manusia tidak bisa menghindar dari
pengetahuan Allah SWT, sebagaimana saat thawaf kita tidak lepas dari melihat
dan dilihat oleh ka’bah al-musyarrafah, hal ini merupakan esensi dari rangkaian
ibadah yang setiap saat dilakukan oleh semua hamba-hamba Allah, Rasulullah SAW
pernah menegaskan ”sembahlah Tuhanmu seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak
yakinlah bahwa Dia melihatmu”!.
Saripati thawaf melahirkan paradigma baru bagi para jamaah haji bahwa
dimanapun, kapanpun, Tuhan selalu melihat perbuatan setiap manusia,
seyogyanyalah orang yang sudah melakukan thawaf akan terpelihara disisi Allah
dari sifat-sifat yang tercela.
Ritual ibadah haji bermula dari Nabi Ibrahim as ketika hijrah bersama siti
hajar dan Nabi Ismail A.S, sejarah peradaban dan kebanggaan umat islam dimulai,
rangkaian peristiwa yang menimpa Nabi Ibrahim sebagai serentetan ujian dari
Allah SWT, didalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji hal tersebut diulangi
satu-persatu sebagai sebuah ritus dengan makna yang sama bagi umat sesudahnya.
Jika dahulu Nabi Ibrahim berdiri dan berdo’a kepada Allah ketika ia
membangun ka’bah maka kini para jamaah haji dan umrah melakukan hal yang sama
ditempat yang sama saat berdiri didepan multazam sejajar dengan pintu ka’bah,
itu perlambang bahwa saat itu seorang hamba disuruh untuk menatap lurus kepada
Tuhan lalu melakukan janji untuk berserah diri kepada-Nya, “ilahii anta
maqshudii waridhaka mathluubii “ Tuhanku Engkaulah tujuan perjalananku, dan
ridha-Mu menjadi harapanku”, lihat alquran surat al-Baqrah 2:12. Jika
dahulu Siti Hajar berlari-lari di antara bukit Shafa dan Marwa, maka kini
para jamaah haji dan umrah juga melakukan hal yang sama, demikian pula selanjutnya.
Ritual haji sarat dengan histori spiritual yang jika kita mengetahui hikmah dan
filosofinya insyaallah kita akan mampu membuat sebuah revolusi diri dalam
prilaku hidup kita sehari-hari.
Sejarah tentang ka’bah tercatat dalam ayat al-qur’an surat al-Baqarah, 2 :
124-125 dan surat Ali-Imran, 3 : 96. Setelah nabi Ibrahim dan keluarganya
berhasil melewati sederetan ujian yang panjang dari Tuhan Maka dibangunlah
rumah Allah yang pertama kali di bumi Makkah di atas sebuah lembah pebukitan
yang gersang, kosong, panas da ntandus.Lalu dibangunlah d isekitarnya rumah
Siti Hajar dan mulailah orang-orang berdatangan, lembah sekitar ka’bah pun
menjadi tempat persinggahan bagi para kelompok orang-orang yang bepergian,
karena tempat ini disamping srategis ia memiliki air zam-zam yang memberikan
kebutuhan pada para musafir waktu itu sebelum melanjutkan perjalanan.
Allah SWT telah memilih ka’bah sebagai rumah-Nya (makna lahiriah) yang kini
semua umat Islam menghadapkan wajahnya kehadap Baitullah tersebut, lalu
dimanakah sebenarnya rumah bathiniah Allah? kemanakan kita upayakan diri ini
untuk berjalan menuju-Nya? Di dalam alkisah suatu hadis kudsi Allah yang Maha
Suci berfirman“ Wahai Manusia! Telah Aku ciptakan syurga sebagai rumahmu nanti
namun sebelum engkau memasukinya aku mengusir syetan dari syurga-Ku.Tempatku di
alam duniamu adalah hati mu sendiri, maka sudahkah engkau bersihkan hatimu dari
syetan sehingga Aku bisa masuk ke dalamnya ? tempatku tidak akan mencukup
langit dan bumi, tetapi aku bisa masuk ke dalam kalbu seorang muslim yang
berserah diri kepada-Ku.
Dari kutipan hadis kudsi di atas dapat disimpulkan bahwa rumah bathiniah
Allah terletak pada kedalaman hati kita, sebagaimana ka’bah yang diririkan oleh
kedua orang suci, dibangun di atas tanah suci dan ditegakkan sebagai symbol
untuk mengingat Allah SWT yang MahaSuci, maka demikian pula hati
kita diciptakan untuk mengingat Allah SWT yang suci, jika hati telah dipenuhi
hal-hal lain selain Allah SWT maka yang akan teringat setiap saat adala
hhal-hal lain pula selain Allah SWT, jika hati dimuat dengan duniawi semata
maka yang akan selalu teringat adalah duniawi pula sekalipun yang si pemilik
hati itu sedang berada di atas sajadah saat i ashalat, atau pun berada di
sekitar ka’bah sedang mengelilingi ka’bah, namun hatinya yang penuh dengan
keduniawian akan mengingat selain Allah SWT. (rul)
Disadur oleh :
Damin-Kecilamass
Pekayon- Cibubur Jakarta-Timur
1. Tidak dapat melihat orang lain
lebih ( maju,bahagia, atau berhasil ). 2. Cenderung senang mencari
kesalahan orang lain. 3. Sulit mencukup diri dengan apa
yang ada ( sulit bersyukur ). 4. Senang lihat orang lain susah /
menderita / gagal. 5. Cenderung membicarakan pada orang lain kesalahan kesalahan orang yang dimaksud dengan segala cara untuk meyakinkan bahwa omonganya paling benar tetapi pada kenyataan belum tentu benar( Pandai mengada-ada)
6.Cenderung menutup diri dari pergaulan dengan orang lain
7. Sifatnya egois( Keras kepala )
8. Berusaha menebar kebencian pada siapapun agar orang yang diajak bicara mempercayainya
apa yang diceriterakan 9. Tanpa disadari bahwa sifat seperti ini akan diikuti oleh sanak keluarga 10. Cenderung akan Memutus silaturahmi , Persahabatan,
Bahaya Iri Hati
1. Orang iri hati mudah menyimpan
dendam. 2. Orang iri hati mudah menghalalkan
segala cara. 3. Orang iri hati mudah melupakan
Firman Tuhan. 4. Orang iri hati mudah kecewa.
Timbulnya Iri Hati
1. Karena tidak memiliki rasa
percaya diri. 2. Karena tidak menyadari Anugerah
& Kasih Allah yang berbeda-beda bagi tiap-tiap orang. 3. Karena tidak memiliki jiwa besar
untuk menghargai kelebihan orang lain. 4. Karena terpengaruh
bujukan-bujukan iblis dalam hati.
Bebas dari Iri
Hati
1. Sadari iri hati adalah dosa. 2. Belajarlah untuk berjiwa besar
agar dapat menyaksikan “Berkat Lebih” dalam kehidupan orang lain. 3. Sadari tugas kita untuk setia
dengan tugas yang dipercayakan pada kita. 4. Ingatlah bahwa iri hati
menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. 5. Sadarilah bhw iri hati menghambat
kesaksian kita. 6. Ingatlah iri hati mudah dipakai
setan utk mendatangkan persoalan. 7. Mengertilah bahwa iri hati
menyengsarakan kita dan mendatangkan banyak kerusakan.
Kesimpulan :
Sifat iri hati sangat berdosa menurut ajaran Islam, karena secara tidak langsung tanpa disadari mengajarkan
pada anak anak kita untuk berbuat dosa atau orang lain yang mengikuti sifat dari sejak mereka
mengikuti sampai akhir hayatnya
2. Dengki
Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk
menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada
orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini.
3. Hasut / Hasud / Provokasi
Hasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain
agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah
belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian
antar sesama.
4. Fitnah
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan,
menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan
sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti
yang kuat.
5. Buruk Sangka
Buruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk
tanpa disertai bukti yang jelas.
6. Khianat / Hianat
Hianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau
kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong
dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik. Orang yang
telah berkhianat akan dibenci orang disekitarnya dan kemungkinan besar tidak
akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.
-->
1.Kaum Nabi Nuh as
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang menjawab seruan dakwahnya
untuk beriman kepada Allah sangat sedikit. Kebanyakan kaumnya justru mendustakan
bahkan memperolok-olok Nabi Nuh. Kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan kaum
Nabi Nuh mengundang azab Allah. Allah lalu memerintahkan Nabi Nuh dan
pengikutnya untuk membuat bahtera. Mereka pun tidak mengetahui untuk apa
bahtera itu dibuat. Sementara kaumnya yang ingkar, mencomooh tindakan Nabi Nuh
membuat bahtera yang dianggap bodoh.
Saat waktu yang ditentukan tiba, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh beserta
pengikutnya dan hewan-hewan berpasang-pasangan untuk menaiki bahtera tersebut.
Allah lalu mendatangkan banjir yang besar. Seluruh kaum yang ingkar saat itu
mati tenggelam. Termasuk istri dan anak Nabi Nuh.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia
tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka
ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS
Al- Ankabut: 14)
Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat pun selamat setelah berlayar menggunakan
bahtera yang terbuat dari kayu. Setelah berlayar cukup lama, dikisahkan bahtera
Nabi Nuh berlabuh di sebuah daratan tertinggi saat itu.
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang
tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah
air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut
Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku." (QS
Al-Qamar: 11-13)
Dalam riwayat disebutkan, air bah yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh ketika itu
menutupi juga hampir dua pertiga bumi. Nabi Nuh beserta dengan pengikutnya yang
beriman berhasil selamat dari azab tersebut atas izin Allah SWT. Namun hingga
kini, belum diketahui secara pasti dimana lokasi berlabuhnya bahtera yang
membawa Nabi Nuh dan pengikutnya.
2.Kaum Nabi Hud as
Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Nabi Hud
menyeru kepada kaumnya agar mengesakan Allah dan meninggalkan kemaksiatan yang
dilakukan. Namun segala seruan dan ajakan Nabi Hud berbuah ejekan, cemoohan dan
pengingkaran dari bangsa 'Ad.
Kaum 'Ad dikenal sebagai bangsa yang cerdas dan memiliki teknologi untuk
membangun gedung-gedung bertingkat. Namun kehandalan dan kehebatan mereka
menjadikan mereka sombong, berlaku bengis, zalim, dan mengingkari seruan dakwah
yang disampaikan Nabi Hud as.
Akibat kedustaan-kedustaan yang dilakukan bangsa 'Ad, Allah SWT menurunkan
azabnya sangat pedih. Alquran menjelaskan dengan sangat jelas tantang hal ini.
“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan
dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu
kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu
lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka
tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat
seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS Al Haaqqah, 69:
6-8)
Bukti-bukti reruntuhan peradaban bangsa Ad ditemukan para peneliti Barat pada
tahun 1990-an di sebuah wilayah yang dikenal 'Ubar, di wilayah Yaman.
Menariknya, apa yang mereka temukan sama persis seperti yang dikisahkan dalam Alquran.
Dr Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian mengatakan
karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota ‘Ubar, dan karena
Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka itulah bukti
terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad
yang disebutkan dalam Alquran:
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana
Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai
bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti
itu, di negeri-negeri lain." (QS Al Fajr, 89: 6-8)
3.Kaum Nabi Saleh as
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Misi Nabi Saleh as sama seperti
para nabi lainnya, yaitu menyeru manusia untuk bertauhid (mengesakan Allah).
Namun seruan Nabi Saleh as justru mendapat tantangan dan cemoohan dari kaumnya,
bangsa Tsamud. Bahkan mereka tetap mempertahankan penyembahan terhadap berhala
yang diyakini sebagai penyembahan warisan nenek moyang.
Kaum Tsamud juga dikenal sebagai bangsa yang cerdas. Jika kaum 'Ad mampu
membangun gedung-gedung tinggi, lain halnya dengan bangsa Tsamud. Mereka mampu
mengubah tebing-tebing dan batu-batu besar menjadi istana-istana yang megah dan
indah. Mereka mampu memahat bebatuan sehingga menjadi tempat tinggal.
Lagi-lagi, kehebatan yang dimiliki mereka, membuat mereka ingkar dan zalim
kepada Allah SWT.
Kaum ini tinggal di dataran bernama "Al Hijr" terletak antara Hijaz
dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai oleh suku Aad yang telah
binasa karena dilanda angin topan yang dikirim oleh Allah sebagai pembalasan
atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Hud.
Seekor unta betina yang keluar dari celah batu sebagai mukjizat Nabi Saleh as
pun tidak cukup untuk meyakinkan mereka untuk beriman kepada Allah. Kaum Tsamud
justru membunuh unta betina tersebut.
Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas
mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka
terbangun dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan berubah menjadi
merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah
azab Allah yang pedih.
Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh, kaumnya malah
merencanakan pembunuhan sebelum azab itu turun. Mereka mengadakan pertemuan
rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rencana pembunuhan itu di waktu
malam, di saat orang masih tidur nyenyak. Rancangan mereka ini dirahasiakan
sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapapun.
Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh di malam yang gelap-gelita dan
sunyi-senyap jatuhlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang datang dari
langit dan yang seketika mereka bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan
tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindungi rasul-Nya dari
perbuatan jahat orang-orang yang ingkar.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin
Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para pengikutnya menuju Ramalah, sebuah
tempat di Palestina, meninggalkan Hijr. Kaum Tsamud habis binasa ditimpa
halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.
Hal ini dikisahkan dalam Alquran di sejumlah ayat.
"Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota
Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul." (QS Al Hijr: 80)
"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum
Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti
yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu,
maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya,
dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang
pedih.” (QS Al A'raf:73)
"Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan
kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan
tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar
dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah
nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat
kerusakan." (QS Al A'raf:74)
"Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di
antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah
beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Saleh di utus (menjadi rasul)
oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang
Saleh diutus untuk menyampaikannya”. (QS Al A'raf:75)
"Orang-orang yang menyombongkan diri
berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang
kamu imani itu”. (QS Al A'raf:76)
"Kemudian mereka sembelih unta betina itu,
dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai
Saleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu
termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (QS Al A'raf:77)
"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka
jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka."
(QS Al A'raf:78)
"Maka Saleh meninggalkan mereka seraya
berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat
Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai
orang-orang yang memberi nasihat”. (QS Al A'raf:79)
4.Kaum Nabi Luth as
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan
pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi
peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada
mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu
sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan kaum Nabi Luth ini akhirnya
tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.
“Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika
saudara mereka Luth, berkata kepadamereka “ Mengapa kamu tiidak bertakwa?”.
Sesungguhnya aku adalah seorang rasulkepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta
upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta
alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu
tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah
orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika
kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata
“Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.“ (QS Asy-Syu'ara
160-168).
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang
mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota
itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda(kebesaran Kami) bagi
orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu
benar-benar terletak dijalan yang masih tetap (dilalui manusia)." (QS
Al Hijr 73-76
5.Kaum Nabi Syuaib as
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh
Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan.
Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah
pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka
berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas.
Akhirnya, mereka binasa.
"Belumkah datang kepada mereka berita
penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad,
Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?
Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata,
maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka." (QS Attaubah: 70)
"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan
berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya
menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami
mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan
kamu pernah membunuh seorang manusia,lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan
dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa
tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang
ditetapkan hai Musa." (QS Thaaha: 40)
"dan penduduk Madyan, dan telah
mendustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir,
kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku
(kepada mereka itu)." (QS Alhajj: 44)
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah.
Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum
ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat
(Aikah)
"Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah
itu benar-benar kaum yang zalim." (QS AlHijr: 78). Penduduk
Aikah ini ialah kaum Syu'aib. Aikah ialah tempat yang berhutan di daerah
Madyan.
"Dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah.
Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul)." (QS
Shaad: 13)
"Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba'
semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah semestinyalah mereka mendapat
hukuman yang sudah diancamkan." (QS Qaaf: 14)
6. Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan
Harun untuk memperingatkan Firaun atas kezaliman yang diperbuatnya. Nabi Musa
dan Harun menyeru agar Firaun beriman kepada Allah swt dan bersikap adil
terhadap rakyatnya. Namun seruan Nabi Musa as bak angin berlalu. Bahkan Firaun
dengan kesombongannya menentang seruan Nabi Musa dan mengaku sebagai tuhan.
Saat hari yang ditentukam tiba, Allah swt memerintahkan agar Nabi Musa dan
umatnya keluar dari Mesir dengan menyeberangi laut Merah. Mukjizat yang Allah
berikan berupa tongkat yang dapat membelah lautan menjadi jalan bagi Nabi Musa
dan umatnya untuk keluar dan hijrah. Nabi Musa dan umatnya keluar dari Mesir
pada malam hari untuk menghindari ancaman dari Firaun. Namun kepergian Nabi
Musa dan umatnya ternyata diketahui oleh Firaun. Firaun lantas bersama ribuan
bala tentaranya mengejar Nabi Musa as.
Nabi Musa dan umatnya menyeberangi lautan melalui jalan yang telah terbentuk.
Tatkala Nabi Musa dan umatnya telah tiba di seberang, Firaun dan bala
tentaranya baru mencapai pertengahan jalan. Seketika lautan yang terbelah itu
langsung menutup kembali. Firaun dan bala tentaranya pun tenggelam di laut
Merah.
Allah Maha Besar, jasad dan kereta perang Firaun terjaga dan berhasil
dikeluarkan setelah ribuan tahun terkubur di kedalaman lautan. Hingga kini
jasad Firaun masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir.
"Dan (ingatlah) tatkala Kami belahkan
lautan untuk kamu, maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan kaum Fir'aun
padahal kamu melihat sendiri." (Al Baqarah: 50)
"Maka pada hari ini Kami selamatkan
badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang
sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda
kekuasaan Kami." (Yunus: 92)
”Dan berkata Firaun kepada orang-orang di
sekelilingnya; ” Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain
aku.” (QS Al Qashas: 38)
Disadur Oleh :
Damin- Kecilamass
Cibubur Jakarta-Timur