1. Tidak dapat melihat orang lain
lebih ( maju,bahagia, atau berhasil ). 2. Cenderung senang mencari
kesalahan orang lain. 3. Sulit mencukup diri dengan apa
yang ada ( sulit bersyukur ). 4. Senang lihat orang lain susah /
menderita / gagal. 5. Cenderung membicarakan pada orang lain kesalahan kesalahan orang yang dimaksud dengan segala cara untuk meyakinkan bahwa omonganya paling benar tetapi pada kenyataan belum tentu benar( Pandai mengada-ada)
6.Cenderung menutup diri dari pergaulan dengan orang lain
7. Sifatnya egois( Keras kepala )
8. Berusaha menebar kebencian pada siapapun agar orang yang diajak bicara mempercayainya
apa yang diceriterakan 9. Tanpa disadari bahwa sifat seperti ini akan diikuti oleh sanak keluarga 10. Cenderung akan Memutus silaturahmi , Persahabatan,
Bahaya Iri Hati
1. Orang iri hati mudah menyimpan
dendam. 2. Orang iri hati mudah menghalalkan
segala cara. 3. Orang iri hati mudah melupakan
Firman Tuhan. 4. Orang iri hati mudah kecewa.
Timbulnya Iri Hati
1. Karena tidak memiliki rasa
percaya diri. 2. Karena tidak menyadari Anugerah
& Kasih Allah yang berbeda-beda bagi tiap-tiap orang. 3. Karena tidak memiliki jiwa besar
untuk menghargai kelebihan orang lain. 4. Karena terpengaruh
bujukan-bujukan iblis dalam hati.
Bebas dari Iri
Hati
1. Sadari iri hati adalah dosa. 2. Belajarlah untuk berjiwa besar
agar dapat menyaksikan “Berkat Lebih” dalam kehidupan orang lain. 3. Sadari tugas kita untuk setia
dengan tugas yang dipercayakan pada kita. 4. Ingatlah bahwa iri hati
menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. 5. Sadarilah bhw iri hati menghambat
kesaksian kita. 6. Ingatlah iri hati mudah dipakai
setan utk mendatangkan persoalan. 7. Mengertilah bahwa iri hati
menyengsarakan kita dan mendatangkan banyak kerusakan.
Kesimpulan :
Sifat iri hati sangat berdosa menurut ajaran Islam, karena secara tidak langsung tanpa disadari mengajarkan
pada anak anak kita untuk berbuat dosa atau orang lain yang mengikuti sifat dari sejak mereka
mengikuti sampai akhir hayatnya
2. Dengki
Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk
menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada
orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini.
3. Hasut / Hasud / Provokasi
Hasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain
agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah
belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian
antar sesama.
4. Fitnah
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan,
menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan
sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti
yang kuat.
5. Buruk Sangka
Buruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk
tanpa disertai bukti yang jelas.
6. Khianat / Hianat
Hianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau
kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong
dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik. Orang yang
telah berkhianat akan dibenci orang disekitarnya dan kemungkinan besar tidak
akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.
-->
1.Kaum Nabi Nuh as
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang menjawab seruan dakwahnya
untuk beriman kepada Allah sangat sedikit. Kebanyakan kaumnya justru mendustakan
bahkan memperolok-olok Nabi Nuh. Kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan kaum
Nabi Nuh mengundang azab Allah. Allah lalu memerintahkan Nabi Nuh dan
pengikutnya untuk membuat bahtera. Mereka pun tidak mengetahui untuk apa
bahtera itu dibuat. Sementara kaumnya yang ingkar, mencomooh tindakan Nabi Nuh
membuat bahtera yang dianggap bodoh.
Saat waktu yang ditentukan tiba, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh beserta
pengikutnya dan hewan-hewan berpasang-pasangan untuk menaiki bahtera tersebut.
Allah lalu mendatangkan banjir yang besar. Seluruh kaum yang ingkar saat itu
mati tenggelam. Termasuk istri dan anak Nabi Nuh.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia
tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka
ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS
Al- Ankabut: 14)
Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat pun selamat setelah berlayar menggunakan
bahtera yang terbuat dari kayu. Setelah berlayar cukup lama, dikisahkan bahtera
Nabi Nuh berlabuh di sebuah daratan tertinggi saat itu.
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang
tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah
air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut
Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku." (QS
Al-Qamar: 11-13)
Dalam riwayat disebutkan, air bah yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh ketika itu
menutupi juga hampir dua pertiga bumi. Nabi Nuh beserta dengan pengikutnya yang
beriman berhasil selamat dari azab tersebut atas izin Allah SWT. Namun hingga
kini, belum diketahui secara pasti dimana lokasi berlabuhnya bahtera yang
membawa Nabi Nuh dan pengikutnya.
2.Kaum Nabi Hud as
Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Nabi Hud
menyeru kepada kaumnya agar mengesakan Allah dan meninggalkan kemaksiatan yang
dilakukan. Namun segala seruan dan ajakan Nabi Hud berbuah ejekan, cemoohan dan
pengingkaran dari bangsa 'Ad.
Kaum 'Ad dikenal sebagai bangsa yang cerdas dan memiliki teknologi untuk
membangun gedung-gedung bertingkat. Namun kehandalan dan kehebatan mereka
menjadikan mereka sombong, berlaku bengis, zalim, dan mengingkari seruan dakwah
yang disampaikan Nabi Hud as.
Akibat kedustaan-kedustaan yang dilakukan bangsa 'Ad, Allah SWT menurunkan
azabnya sangat pedih. Alquran menjelaskan dengan sangat jelas tantang hal ini.
“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan
dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu
kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu
lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka
tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat
seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS Al Haaqqah, 69:
6-8)
Bukti-bukti reruntuhan peradaban bangsa Ad ditemukan para peneliti Barat pada
tahun 1990-an di sebuah wilayah yang dikenal 'Ubar, di wilayah Yaman.
Menariknya, apa yang mereka temukan sama persis seperti yang dikisahkan dalam Alquran.
Dr Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian mengatakan
karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota ‘Ubar, dan karena
Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka itulah bukti
terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad
yang disebutkan dalam Alquran:
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana
Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai
bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti
itu, di negeri-negeri lain." (QS Al Fajr, 89: 6-8)
3.Kaum Nabi Saleh as
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Misi Nabi Saleh as sama seperti
para nabi lainnya, yaitu menyeru manusia untuk bertauhid (mengesakan Allah).
Namun seruan Nabi Saleh as justru mendapat tantangan dan cemoohan dari kaumnya,
bangsa Tsamud. Bahkan mereka tetap mempertahankan penyembahan terhadap berhala
yang diyakini sebagai penyembahan warisan nenek moyang.
Kaum Tsamud juga dikenal sebagai bangsa yang cerdas. Jika kaum 'Ad mampu
membangun gedung-gedung tinggi, lain halnya dengan bangsa Tsamud. Mereka mampu
mengubah tebing-tebing dan batu-batu besar menjadi istana-istana yang megah dan
indah. Mereka mampu memahat bebatuan sehingga menjadi tempat tinggal.
Lagi-lagi, kehebatan yang dimiliki mereka, membuat mereka ingkar dan zalim
kepada Allah SWT.
Kaum ini tinggal di dataran bernama "Al Hijr" terletak antara Hijaz
dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai oleh suku Aad yang telah
binasa karena dilanda angin topan yang dikirim oleh Allah sebagai pembalasan
atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Hud.
Seekor unta betina yang keluar dari celah batu sebagai mukjizat Nabi Saleh as
pun tidak cukup untuk meyakinkan mereka untuk beriman kepada Allah. Kaum Tsamud
justru membunuh unta betina tersebut.
Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas
mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka
terbangun dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan berubah menjadi
merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah
azab Allah yang pedih.
Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh, kaumnya malah
merencanakan pembunuhan sebelum azab itu turun. Mereka mengadakan pertemuan
rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rencana pembunuhan itu di waktu
malam, di saat orang masih tidur nyenyak. Rancangan mereka ini dirahasiakan
sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapapun.
Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh di malam yang gelap-gelita dan
sunyi-senyap jatuhlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang datang dari
langit dan yang seketika mereka bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan
tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindungi rasul-Nya dari
perbuatan jahat orang-orang yang ingkar.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin
Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para pengikutnya menuju Ramalah, sebuah
tempat di Palestina, meninggalkan Hijr. Kaum Tsamud habis binasa ditimpa
halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.
Hal ini dikisahkan dalam Alquran di sejumlah ayat.
"Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota
Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul." (QS Al Hijr: 80)
"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum
Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti
yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu,
maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya,
dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang
pedih.” (QS Al A'raf:73)
"Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan
kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan
tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar
dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah
nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat
kerusakan." (QS Al A'raf:74)
"Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di
antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah
beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Saleh di utus (menjadi rasul)
oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang
Saleh diutus untuk menyampaikannya”. (QS Al A'raf:75)
"Orang-orang yang menyombongkan diri
berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang
kamu imani itu”. (QS Al A'raf:76)
"Kemudian mereka sembelih unta betina itu,
dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai
Saleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu
termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (QS Al A'raf:77)
"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka
jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka."
(QS Al A'raf:78)
"Maka Saleh meninggalkan mereka seraya
berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat
Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai
orang-orang yang memberi nasihat”. (QS Al A'raf:79)
4.Kaum Nabi Luth as
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan
pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi
peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada
mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu
sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan kaum Nabi Luth ini akhirnya
tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.
“Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika
saudara mereka Luth, berkata kepadamereka “ Mengapa kamu tiidak bertakwa?”.
Sesungguhnya aku adalah seorang rasulkepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta
upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta
alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu
tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah
orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika
kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata
“Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.“ (QS Asy-Syu'ara
160-168).
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang
mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota
itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda(kebesaran Kami) bagi
orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu
benar-benar terletak dijalan yang masih tetap (dilalui manusia)." (QS
Al Hijr 73-76
5.Kaum Nabi Syuaib as
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh
Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan.
Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah
pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka
berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas.
Akhirnya, mereka binasa.
"Belumkah datang kepada mereka berita
penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad,
Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?
Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata,
maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka." (QS Attaubah: 70)
"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan
berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya
menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami
mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan
kamu pernah membunuh seorang manusia,lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan
dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa
tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang
ditetapkan hai Musa." (QS Thaaha: 40)
"dan penduduk Madyan, dan telah
mendustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir,
kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku
(kepada mereka itu)." (QS Alhajj: 44)
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah.
Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum
ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat
(Aikah)
"Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah
itu benar-benar kaum yang zalim." (QS AlHijr: 78). Penduduk
Aikah ini ialah kaum Syu'aib. Aikah ialah tempat yang berhutan di daerah
Madyan.
"Dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah.
Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul)." (QS
Shaad: 13)
"Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba'
semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah semestinyalah mereka mendapat
hukuman yang sudah diancamkan." (QS Qaaf: 14)
6. Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan
Harun untuk memperingatkan Firaun atas kezaliman yang diperbuatnya. Nabi Musa
dan Harun menyeru agar Firaun beriman kepada Allah swt dan bersikap adil
terhadap rakyatnya. Namun seruan Nabi Musa as bak angin berlalu. Bahkan Firaun
dengan kesombongannya menentang seruan Nabi Musa dan mengaku sebagai tuhan.
Saat hari yang ditentukam tiba, Allah swt memerintahkan agar Nabi Musa dan
umatnya keluar dari Mesir dengan menyeberangi laut Merah. Mukjizat yang Allah
berikan berupa tongkat yang dapat membelah lautan menjadi jalan bagi Nabi Musa
dan umatnya untuk keluar dan hijrah. Nabi Musa dan umatnya keluar dari Mesir
pada malam hari untuk menghindari ancaman dari Firaun. Namun kepergian Nabi
Musa dan umatnya ternyata diketahui oleh Firaun. Firaun lantas bersama ribuan
bala tentaranya mengejar Nabi Musa as.
Nabi Musa dan umatnya menyeberangi lautan melalui jalan yang telah terbentuk.
Tatkala Nabi Musa dan umatnya telah tiba di seberang, Firaun dan bala
tentaranya baru mencapai pertengahan jalan. Seketika lautan yang terbelah itu
langsung menutup kembali. Firaun dan bala tentaranya pun tenggelam di laut
Merah.
Allah Maha Besar, jasad dan kereta perang Firaun terjaga dan berhasil
dikeluarkan setelah ribuan tahun terkubur di kedalaman lautan. Hingga kini
jasad Firaun masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir.
"Dan (ingatlah) tatkala Kami belahkan
lautan untuk kamu, maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan kaum Fir'aun
padahal kamu melihat sendiri." (Al Baqarah: 50)
"Maka pada hari ini Kami selamatkan
badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang
sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda
kekuasaan Kami." (Yunus: 92)
”Dan berkata Firaun kepada orang-orang di
sekelilingnya; ” Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain
aku.” (QS Al Qashas: 38)
Disadur Oleh :
Damin- Kecilamass
Cibubur Jakarta-Timur
Ismâ’il as mematuhi perintah ayahnya. Ia
pergi dari satu bukit ke bukit lain untuk mencari batu yang paling baik. Ketika
sedang mencari, malaikat Jibril datang pada Ismâ’il as dan memberinya sebuah
batu yang cantik. Dengan senang hati ia menerima batu itu dan segera membawa
batu itu untuk diberikan pada ayahnya. Ibrâhim as pun gembira dan mencium batu
itu beberapa kali.
Kemudian Ibrâhim as bertanya pada
putranya, “Dari mana kamu peroleh batu ini?” Ismâ’il as menjawab, “Batu ini aku
dapat dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu.” Ibrâhim as mencium batu
itu lagi dan diikuti juga oleh Ismâ’il as.
Begitulah, sampai saat ini banyak yang
berharap bisa mencium batu yang dinamai Hajar Aswad itu. Umar bin Khathab
pernah menyampaikan bahwa Rasulullah saw sendiri pernah menciumnya. Saat Umar
bin Khaththab berada di hadapan Hajar Aswad dan menciumnya ia berkata, “Demi
Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu. Seandainya aku tidak
melihat Rasulullah Saw menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” [Hadits no
228 Kitab Sahih Muslim].
Karena sangat bersejarahnya, ada juga
orang yang ingin mencuri Hajar Aswad. Di akhir bulan Muharram 1351 H, datanglah
seorang laki-laki ke Ka’bah. Ia mencungkil Hajar Aswad, mencuri potongan kain
Kiswah, dan membawa sepotong perak dari tangga Ka’bah. Untunglah, penjaga
masjid mengetahuinya, laki-laki itu pun ditangkap dan dihukum. Tanggal 28
Rabi’ul Akhir tahun yang sama, dilakukan penempelan kembali bongkahan batu itu
ke tempat asalnya.
Sebelumnya perekatan itu, dilakukan
penelitian oleh para ahli mengenai bahan perekat yang digunakan. Akhirnya
ditemukan perekat berupa bahan kimia yang dicampur dengan minyak misik dan
ambar. « [imam]
Banyak informasi keliru yang diterima
oleh kalangan non Muslim tentang Hajar Aswad (Batu Hitam). Bahwa mereka mengira
umat Islam menyembah Hajar Aswad yang ada di Mekah (Ka’bah).
Hajar Aswad yang menempel di sudut Ka’bah
merupakan tanda dimana arah Thawaf dimulai dan berakhir. Thawaf yaitu kegiatan
mengelilingi Ka’bah. Jadi awal Thawaf dimulai dan berakhir dari arah Hajar
Aswad .
Jadi tak ada yang istimewa dari Hajar
Aswad. Jika ada hadits yang menceritakan Nabi pernah Mencium Hajar Aswad, ini
pun tak menjadikan Hajar Aswad sebagai barang keramat. Karena jika menjadi
barang keramat dan wajib mencium, berapa waktu antrian yang dibutuhkan oleh
hampir 2 jutaan jemaah haji. Belum lagi jika pada terinjak-injak jika
berebutan.
Potongan batu hajar azwad bisa kita
jumpai (selain di Makkah,kabah ), juga di jumpai di :
1.Potongan Hajar Aswad Makam Sulaiman di
Masjid Sulaiman.
2.Potongan Hajar Aswad di Masjid Biru
(Masjid Sultan Ahmed)
3.Potongan Hajar Aswad di Masjid Sokullu
Mehmet Pasa Camii.
Hajar Aswad adalah “batu hitam”yang
terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai.
Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘RUBY’ yang diturunkan Allah dari surga
melalui malaikat Jibril.
Hajar Aswad terdiri dari delapan keping
yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin
karena terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan
milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik
untuk haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah
berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat Jahilliah
yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jemaah haji
yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.
Nenek moyang Rasulullah, termasuk
kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka’bah. Atau secara
spesifik adalah penanggung jawab air zamzam yang selalu menjadi primadona dan
incaran para jemaah haji dan para penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan
Abdullah bin Amir bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda :
Satu riwayat Sahih lainnya menyatakan:
“ Rukun (HajarAswad) dan makam
(Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby surga yang kalau tidak karena
sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap
orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya”
Hadist Sahih riwayat Imam Baihaqie dan
Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
“Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar
Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi
saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.
Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa
Rasul SAW bersabda:
“Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini
sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang
keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat”.
Berdasarkan bunyi Hadist itulah antara
lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun tidak mengerti akan
senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai ‘target’ berburu …. saya harus
menciumnya. Mencium Hajar Aswad!!!.
Tapi apa bisa? Dua juta jemaah, datang
dimusim haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama.
Begitu padatnya, maka anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberii
‘kecupan’ jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan takbir: Bismillah Wallahu
Akbar.
Hadis tersebut mengatakan bahwa
disunatkan membaca do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada
permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu
Umar RA. Artinya:
“Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah
lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.
Dari Humaid ibn Abi Sawiyyah ra, bahwa ia
pernah mendengar bahwa Ibn Hisyam pernah bertanya kepada Atho ibn Abi Ribbah ra
(seorang tabi’in) ketika Atho sedang tawaf di Baitullah. Atho kemudian
meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra mengatakan, “ Bahwasannya Nabi Saw pernah
bersabda, “Bahwa di sekitar Hajar Aswad ada 70 malaikat dan jika seseorang
(yang sedang tawaf) berdoa,” Ya Allah, aku minta ampunan dan keselamatan di
dunia dan akhirat, Ya Allah berilah aku kebaikan di dunia dan akhirat dan
jauhkan aku dari siksa api neraka.” Maka para melaikat itu akan meng aminkan
nya.” Ketika sampai di Hajar Aswad, Ibn Hisyam bertanya kembali, “ Ya Aba
Muhammad, apa yang kau ketahui tentang Hajar Aswad ini? Atho menjawab, bahwa Abu
Hurairah pernah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw
mengatakan,” Barangsiapa yang menyetuhnya, maka sebenarnya ia menyentuh tangan
ar-Rohman (tangan Allah).” ( HR. Ibnu Majah. Al-Mundziri mengatakan bahwa
hadist ini di Hasankan oleh sebagaian ulama hadist)
Dari Abdullah Ibn Umar bahwasanya
Rasulullah Saw pernah bersabda, “ Di hari kiamat kelak, akan datang rukun
(Hajar Aswad) dalam bentuk yang lebih besar dari gunung Abi Qubaisy. Ia
memiliki dua bibir kemudian menceritakan siapa saja yang pernah menyetuhnya
dengan niat (karena Allah semata). Ia (Hajar Aswad) adalah Yaminullah (tangan
kanan Allah) yang disentuh oleh para hamba-hamba Nya.” (HR. Khuzaimah.
Adz-Dzahabi melemahakan hadist ini karena ada seorang rawi, yaitu Abdullah Ibn
Muamil yang dianggap lemah. Al-Baihaqi pun melemahkan hadist ini. Namun tentang
kelemahan Abdullah Ibn Muamil ini ditentang oleh pakar hadist lainnya karena
Ibn Hibban menganggap nya seorang tsiqot (bisa dipercaya). Begitu pula
pandangan Ibn Hajar yang menyebutkan bahwa meskipun rowi termasuk yang suka
menafsirkan hadist, namun jika ada hadist lain yang menguatkannya maka hadist
ini termasuk hadist Hasan sebagaimana pandangan Imam Tirmidzi.” Dengan demikian
hadist diatas tidak termasuk hadist dhoif karena ada hadist yang menguatkan
hadist ini, yaitu dari riwayat Humaid Ibn Abi Sawiyyah (hadist pertama diatas)
“Rukun itu (Hajar Aswad) dan Maqam
(tempat berpijak Nabi Ibrahim) adalah batu Yaqut dari bebatuan surga. Dan jika
tidak disentuh (oleh) dosa-dosa manusia, maka pastilah akan terang dunia ini
(karena cahaya Hajar Aswad). Dan orang sakit yang menyetuhnya pastilah akann
sembuh.” (HR. Baihaqi. Imam Nawawi dalam al-Majmu mengatakan bahwa sanad nya
Sahih)
“Al-Hajar Al-Aswad turun dari surga,
warnanya lebih putih dari susu lalu dosa-dosa anak Adam lah yang menjadkannya
berwarna hitam” [HR.At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dengan lafadh “lebih putih dari
salju”]
“Sungguh aku mengetahui bahwa kamu
hanyalah batu yang tidak bisa mendatangkan madharat maupun manfa’at. Namun
kalau bukan karena aku telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
menciummu tentu aku tidak akan menciummu”.
Di salah satu museum Inggris, terdapat 3
buah bongkahan batu tersebut, para peneliti mengatakan bahwa “ batu tersebut
bukan dari system tata surya kita”, batu tersebut mengapung di atas air.
Lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam
tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu.
RIWAYATNYA
Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu
hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan
secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha
mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit
kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim
AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu
tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka’bah, batu itu tak segera diletakan
di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari
Ka’bah tujuh putaran.
DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD
Diantara peristiwa penting yang berkenaan
dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu
ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja
terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka
dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus
bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang
mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ketempat semula karena
pemugaran Ka’bah sudah selesai.
Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin
Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
”Alangkah baiknya kalau keputusan ini
kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”
Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini
disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin
Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa
itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih
sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).
Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu
HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal
luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan
tindakan Muhammad terhadap usul itu?
Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar
Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu
ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari
masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu
dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan.
Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.
RAHASIA HAJAR AL-ASWAD
Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad
hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan
Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita
lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan
sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak
juga menyembah Ka’bah.
Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa
kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW
menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”
Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi
Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad.
Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh
beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya :
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya
itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) “.
Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini
pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat
banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan
pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka
menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda “Ketika Hajar
Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi
hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi).
sumber artikel : At-tiin Tour
Periode Yang Dilalui
1850-1820 SM: Nabi Ibrahim meletakkan
Hajar Aswad di Ka’bah, ketika membangun Ka’bah.
400 M: Amr bin Harits bin Madhadh al-Jurhum
memasukkan ke dalam sumur Zamzam.
400 M: Qushay bin Kilab (kakek Rasul SAW
yang kelima) meletakkan kembali ke tempatnya di Ka’bah.
606 M, terjadi kerusakan pada Ka’bah
akibat banjir, dan Nabi Saw (Nabi saat itu belum diangkat menjadi Nabi) meletakan
di tempat yang ada sekarang setelah terjadi perdebatan antarkabilah Quraisy.
180-an H, Abdullah bin Zubair memasang
lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad.
7 Zulhijah 317 H: Abu Tahir Al Qarmuthi
mencopot Hajar Aswad.
10 Dzulhijjah 339 H, Hajar Aswad berhasil
dikembalikan ke tempatnya.
363 H, Hajar Aswad dipukul oleh seorang
laki-laki dari Romawi, namtm ia tidak berhasil membawanya.
413 H, seorang laki-laki dari Bani
Fatimiyyah, memecahkan Hajar Aswad.
990 H, seorang laki-laki asing memukul
Hajar Aswad.
1268 H, Sultan Abdul Majid mengganti
lingkaran perak dengan emas.
1293 H, Sultan Abdul Aziz mengganti
lingkaran emas dengan perak.
Muharram 1351 H, seorang laki-laki dari
Afghanistan mencungkil pecahan Hajar Aswad dan mencuri potongan kain Kiswah
Ka’bah.
28 Rabiul Akhir 1351 H, Raja Abdul Aziz
bin Abdur Rahman As-Saud merekatkan kembali Hajar Aswad yang telah pe cah dan
memberinya lingkaran perak di sekelilingnya.
Bahan :
Pegagan ...................... 200 gram
Air matang ................... 1 gelas
Cara meramu:
Tanaman pegagan segar termasuk akar dicuci bersih, lalu ditumbuk atau
diblender. Setelah halus, tambahkan 1 gelas air matang lalu diperas dan di
saring. Air perasan kemudian didiamkan sekitar 5 menit sampai ampasnya
mengendap. Setelah itu baru air perasan diminum tanpa ampas.
Aturan minum:
Minum perasan pegagan, 3 kali sehari, masing-masing 1 gelas. Minum pagi hari
sebelum sarapan, siang hari setelah makan dan malam hari sebelum tidur.
Ramuan bisa dibuat banyak sekaligus, namun stok hanya 2-3 hari konsumsi
dan disimpan di kulkas.
Bahan :
Kulit Manggis ................secukupnya
Air bersih......................500 gram
Cara membuat :
Kulit manggis dicuci bersih kemudian direbus samapai mendidih setelah air rebusan tersebut dingin untuk diminum pagi dan sore segelas selama 1 minggu berturut-turut